Tampilkan postingan dengan label Ruang Laktasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ruang Laktasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Februari 2009

Jangan Cepat-Cepat Mengganti Asi Dengan Susu Formula

Banyak ibu mengira ASI-nya sedikit hingga si kecil pun diberikan susu formula. Padahal, tegas Utami, tak ada ibu yang kekurangan ASI. "Jika bayi kekurangan ASI, bukan lantaran ibunya yang tak bisa memproduksi susu sebanyak yang diperlukan bayi, melainkan bayinya yang tak bisa mengambil dari si ibu sebanyak yang diperlukan," terangnya. Jadi, jangan dibalik, ya, Bu! Nah, mengapa si kecil tak bisa mengambil ASI sebanyak yang ia perlukan, tak lain lantaran cara menyusunya yang salah. Jadi, kalau si kecil harusnya memperoleh ASI sebanyak 100 cc, misal, tapi karena cara menyusunya salah hingga yang didapat cuma 50 cc, akibatnya yang dipasok "pabrik" pun cuma 50 cc. Itu sebab, harus diperhatikan betul cara menyusu pada si kecil. Yang benar, seperti sudah diutarakan di atas, yaitu seluruh areola ibu masuk ke mulut si kecil. Faktor lain yang membuat si kecil kekurangan ASI lantaran ibu mengintervensi bayinya dengan macam-macam. Antara lain, begitu lahir si kecil langsung diberi susu formula yang sebetulnya enggak perlu. Belum lagi ketika memberi ASI perah pakai botol susu dan dot, bukan disuapi pakai sendok. Hani

Persiapan Memerah
* Waktu yang paling tepat untuk memerah ASI ketika payudara sedang penuh, bisa diulang kembali sekitar 3-4 jam.
* Alat-alat yang akan digunakan untuk memerah harus dibersihkan/disetrilisasi lebih dulu. Sebaiknya selesai memerah, alat-alat tersebut langsung dibersihkan hingga tetap terjaga kebersihannya.
* Ketika memerah, sebaiknya ibu dalam keadaan tenang dan nyaman. Pilih ruangan yang memungkinkan ibu tak terganggu apa pun. Lebih baik lagi bila si kecil ada yang menjaga hingga konsentrasi ibu tak terganggu.
* Cuci tangan dengan sabun dan air tiap kali hendak mulai memerah, sedangkan payudara cukup dicuci dengan air. Jangan gunakan sabun atau apa pun pada puting. * Minumlah satu gelas air/sari buah/susu/secangkir sup atau kacang ijo sebelum memerah ASI. Hani
sumber: internet

Agar ASI lancar

Tanya
Mungkin masih pada inget tentang niatku untuk. ASI eksklusif 6 bulan Ya. Nah hari ini hari ke-3 aku masuk kantor. Tapi o la la kok ASIku dikiit banget ya ? Apa karena tidak disedot langsung ama bayiku ? Tiap hari aku bawa pulang ASI palingan 3 kali 100 sampai 120cc.
Jawab
Kayaknya kuncinya satu deh. Jangan terlalu dipikirin. Waktu baru2 masuk kerja aku juga gitu, kepikiran banget mau ASI banyak dan melakukan usaha2 yang dirimu bilang. Trus pas lagi meresnya juga sambil mencoba-coba ngebayangin muka anak2ku atau ngeliatin foto mereka. Tidak sadar mungkin akunya jadi tegang, hasilnya malah tidak bagus. Mungkin karena terlalu dipikirin juga kali ya. Akhirnya aku mencoba rileks, meresnya sambil baca majalah atau koran. Bacaannya juga yang ringan2. Eh tidak kerasa tiba2 botolnya sudah mau penuh. [sd]
Mungkin bisa konsultasi ke klinik laktasi. Kalau tidak salah, ada terapi hormon deh, supaya asi-nya banyakkk. Terus, aku pernah baca juga, angkak katanya bisa memperbanyak kuantitas dan kualitas asi. Yang warnanya merah. Di hero juga ada,kalau tidak salah dibuat seperti sop gitu dicampur sama ayam kampung. [Rn]
Kadang sudah makan banyak end 'bergizi' pun perasan asiku bisa lebih sedikit dari biasanya. So pikiran sangat berpengaruh buatku. Alhamdulillah anak-ku berhasil 6 bulan asi exklusif sekaranh malah kalau dicoba formula dilepeh2 tidak mau. Sampai sekarang aku peras asinya dikantor juga dapetnya segitu loh, tapi sampai dirumah langsung meres lagi, jadinya persedian asinya sampai sekarang masih mencukupin. [li]
Aku dulu pertamanya juga tidak lancar perahnya. Paling banter 90 ml sekali perah. Aku berangkat ngantor jam 07.30 sampai jam 18.00. Terus aku merilekskan diri sebelum perah. Tarik nafas, bayangin si kecil di rumah ( pernah aku sampai bawa fotonya lho ). Baru deh mulai perah, seringkali aku pegang puting dan aerola, dirangsang dengan gerakan seperti si kecil pas menyusu. Baru setelah terasa "let down refleks"nya muncul, mulai deh perahnya.Waktu itu aku minum lancar ASI dan ketika mulai ngantor aku sempat stress karena perahnya sedikit, aku minum sun chlorella yang dari CNI. Alhamdulillah produksi meningkat. Bisa sampai 240 ml sekali perah.Kuncinya percaya diri, rileks dan yakin bisa. Aku alhamdulillah bisa full sampai 6 bulan dan tidak pakai formula sampai umur 3 th kurang 3 bulan [ssn]
Udah pernah coba payudaranya di massage? Soalnya aku dulu kalau sudah panik ASI-ku dikit aku langsung rajin lagi massage payudara dan alhamdulillah lancar lagi. Kalau mau coba kebetulan aku ada file tentang massage payudara setelah melahirkan. [Rna]
Pernah coba massage gak? Kalau ke klinik laktasi Carolus diajarin. Telp (021)390 4441/ 315 4187. Ada tiga gerakan. Sebelumnya berusaha untuk ngikutin tips edisi special ayah bunda tapi tidak dong. Baru pas diajarin langsung sama suster carolus aku ngerti. Kalau tertarik ke carolus, dating sepagi mungkin hari Sabtu. Jam 7 juga mereka sudah beraktivitas setelah doa pagi bentar. Kalau siang, suka rame dan karena jumlah SDM terbatas, sulit juga untuk terima perhatian mereka secara penuh, ditinggal2. kalau sepi, kita bisa dengan tenang:
- latihan pijat
- latihan peras
- diberi motivassi dan Tanya2
Sukses ya bertahan sampai 6 bulan!! Jangan tergoda dl untuk Beli susu formula, kecuali bayi kekurangan. Jangan panic kalau orang- orang di Luar kita main asal bilang bayi kita kekurangan ASI nantinya. Toh dokter jelas-jelas memberitahukan bahwa bayi yang cukup ASI antara lain pipis lebih dari 8 kali per hari, trus tidurnya juga tidak gelisah lah kalau habis minum gampang tidur. sudah gitu bibir dan kulitnya tidak menunjukkan tanda kekeringan. Jangan pernah berpikir sering kasih asi pada malam hari (per dua jam) itu mengurangi ASI, justru nggak, malah merangsang.Atau mending gini aja, ini jadwal yang waktu itu aku dapat dari carolus Dan berguna banget buat aku. Kalau tidak salah usia 3 bulanan ini per in Take bayi minum 60-90 mill ya (mohon koreksi)
06.00 payudara1 ASI, payudara2 peras
09.00-10.00 payudara 1+2 peras
12.00-13.00 payudara 1+2 peras
15.00-16.00 payudara 1+2 peras
18.00 payudara1 ASI, payudara2 peras
20.00 payudara1 ASI, payudara2 peras
22.00 payudara 1+2 ASI
02.00 payudara 1+2 ASI
04.00 payudara 1+2 ASI
Note: lama2 kan tidak akan selalu harus ngasih asi antara 22.00-04.00[J]
Aku ikut nambahin ya, cobain deh makan kacang, ya mau kacang rebus, kacang goreng. Paling enak sih kacang rebus kali ya supaya less fat- nya. Aku sampai sekarang masih hobi makan kacang, ya bukannya buat asi doang, tapi emang doyan juga sih :)Aku cuman mau kasih saran buat menanggulangi masalah laktasi ibu bekerja, based on my experience. Waktu 2 minggu sebelum aku kerja, aku sudah mulai stok asi hasil pompaanku setiap dini hari. Walaupun aku masih di rumah dan nyusuin baby, tapi pas dini hari (sekitar jam 3 atau 4 pagi waktu anakku minta mimik, setelah dia selesai nyusu, aku pompa kelebihan susu-nya). Nah, susu2 itu aku langsung simpen di freezer (yang sekalinya itu susu di freezer, bisa tahan sampai 2 bulan). Aku stok setiap hari, jadinya pas aku mulai ngantor, aku udah punya banyak cadangan berbotol2 susu. Menuruntuku, ini bagus supaya akunya juga tenang di kantor dan tenang selama memompa (memberikan kenyamanan batiniah gitu) karena aku tahu aku punya banyak cadangan di rumah. Selama di kantor juga ya aku mau mpa, berhubung aku cukup sibuk, aku Cuman bisa mau mompa sekali aja, pas lunch, itu juga cuman dapet sekitar 250cc. Tapi pemompaan dini hari terus aku lakuin supaya aku bisa ngeganti stok yang sudah kepakai. So far, caraku ini works very well, alhamdulillah. Aku masih kasih asi ekslusif, persediaan susu di freezer masih banyak, dan asi-ku masih lancar. [Elv]
Di klinik laktasi aku pernah liat plastik khusus untuk simpen ASI. plastiknya agak tebal, didepan ada tempat yang bisa ditulis tgl dan jam ASI diperah, trus ditutupnya pakai lock kaya plastik obat itu lho. merknya Mendela. Menurut susternya kalau mau diminumkan ke anak, plastiknya tinggal direndam air hangat dan dituang ke botol. cuma tau deh belinya dimana, soalnya yang di klinik laktasi cuma display doang (vit)

Asi Peras, Solusi untuk Ibu Bekerja

Jadi, Bu, tak ada alasan untuk tak memberi ASI eksklusif pada si kecil. Sangat dianjurkan menyimpan ASI peras di lemari es karena tahan 2 hari dan kualitasnya pun tak berubah. Sekitar 70 persen ibu di Indonesia bekerja. Ini berarti, banyak ibu yang tak bisa menyusui. Namun bukan berarti si kecil tak bisa mendapatkan ASI sama sekali. Toh, ASI bisa diperas. Dengan begitu, si kecil bisa tetap memperoleh ASI, bahkan ASI eksklusif yaitu hanya ASI tanpa makanan tambahan apa pun hingga si kecil berusia 6 bulan. Hanya sayang, ASI peras tak bisa menggantikan tindakan menyusui itu sendiri. Seperti diketahui, tindakan menyusui punya banyak pengaruh untuk pertumbuhan mental dan fisik bayi. "Kalau saja semua bayi mendapatkan exclusive breast feeding minimal 4 bulan, saya yakin tak akan ada tawuran seperti sekarang ini. Karena anak-anak yang diberi ASI akan tumbuh menjadi anak yang kepribadiannya baik, lantaran mereka tumbuh dalam keadaan yang dinamakan secure attachment, suatu suasana yang aman, hingga mereka akan mempunyai kepribadian yang baik," tutur dr. Utami Roesli, SpA, MBA. Itu sebab, ASI peras hanya dianjurkan bagi bayi-bayi yang ibunya bekerja. "Bila ibu tak bekerja atau si bayi bisa dibawa ke tempat di mana ibunya berada, harus diusahakan breast feeding atau menyusui langsung, bukan ASI peras," lanjut ketua Lembaga Peningkatan Penggunaan Air Susu Ibu RS Sint. Carolus, Jakarta ini. Jadi, Bu, hanya bila situasi dan kondisinya tak memungkinkan untuk menyusui langsung, barulah si kecil boleh diberi ASI peras/perah. "Ibaratnya, tak ada rotan, akar pun jadi." POMPA PISTON Namun sebelum kita memberikan ASI peras pada si kecil, ada beberapa "aturan" yang penting diperhatikan. Pertama, sebelum si kecil berusia 4 bulan, sebaiknya ASI peras/perah yang diberikan jangan menggunakan dot dulu karena si kecil akan "bingung puting." Maksudnya, ia akan susah untuk kembali menyusu dengan benar pada payudara ibu. Kedua, bila sudah berada satu atap lagi dengan si kecil, hendaknya ASI peras yang masih ada jangan diberikan lagi, tapi bayi harus menyusu langsung pada ibu. Bukankah tindakan menyusui adalah rotan? Jadi, bila ada rotan, mengapa harus menggunakan akar? Adapun cara "menabung" ASI peras, yang paling baik dan efektif dengan menggunakan alat pompa ASI elektrik. Hanya saja, harganya relatif mahal. Lagi pula, masih ada cara lain yang lebih terjangkau bila punya dana lebih, yaitu piston atau pompa berbentuk suntikan. Prinsip kerja alat ini memang seperti suntikan, hingga memiliki keunggulan, yaitu setiap jaringan pompa mudah sekali dibersihkan dan tekanannya bisa diatur. Ironisnya, pompa-pompa yang ada di Indonesia jarang sekali berbentuk suntikan, lebih banyak berbentuk squeeze and bulb. Padahal, harga kedua pompa tersebut relatif sama. Namun bentuk squeeze and bulb tak pernah dianjurkan banyak ahli ASI. Soalnya, pompa seperti ini sulit dibersihkan bagian bulb-nya (bagian belakang yang bentuknya menyerupai bohlam) karena terbuat dari karet hingga tak bisa disterilisasi. Selain itu, tekanannya tak bisa diatur, hingga tak bisa sama/rata. MEMERAH DENGAN JARI Tentu saja ada yang lebih murah ketimbang pompa-pompa ASI tadi, yaitu memerah dengan jari. Cara back to nature ini amat sederhana dan tak perlu biaya. Namun agar hasil perahannya memuaskan, kita perlu mengenal sedikit anatomi payudara. Seperti dijelaskan Utami, payudara terdiri tiga komponen yang prinsipil, yaitu "pabrik" (di daerah berwarna putih), saluran, dan "gudang" (di daerah warna cokelat atau areola) ASI. Ketiganya seperti bejana berhubungan. "ASI diproduksi di 'pabrik'nya yang berbentuk seperti kumpulan buah anggur. Setiap 'pabrik' ASI dilalui otot-otot. Bila otot-otot ini mengkerut, ia akan memompa ASI ke salurannya menuju 'gudang'. Nah, agar pabrik memproduksi ASI lagi, syarat utamanya ASI di 'gudang' harus habis lebih dulu. Bila 'gudang' kosong, barulah 'pabrik' akan mengisinya kembali, begitu seterusnya," papar Utami. Jadi, pada prinsipnya kita harus bisa mengeluarkan ASI yang ada di "gudang". Caranya, tempatkan tangan kita di salah satu payudara, tepatnya di tepi areola. Posisi ibu jari terletak berlawanan dengan jari telunjuk. Tekan tangan ke arah dada, lalu dengan lembut tekan ibu jari dan telunjuk bersamaan. Pertahankan agar jari tetap di tepi areola, jangan sampai menggeser ke puting. Ulangi secara teratur untuk memulai aliran susu. Putar perlahan jari di sekeliling payudara agar seluruh saluran susu dapat tertekan. Ulangi pada sisi payudara lain, dan jika diperlukan, pijat payudara di antara waktu-waktu pemerasan. Ulangi pada payudara pertama, kemudian lakukan lagi pada payudara kedua. Letakan cangkir bermulut lebar yang sudah disterilkan di bawah payudara yang diperas.

CARA MENYIMPAN
Sebenarnya, tutur Utami, memerah ASI hampir sama dengan mengeluarkan pasta gigi. Bila kita hanya menekan ujung pasta gigi, tentu pastanya tak akan keluar. Jadi, kita harus menekan agak ke belakang. "Bila tak keluar banyak, kemungkinan teknik ibu salah. Mungkin cara memerah susunya seperti melakukan massage payudara. Ini tak akan mengeluarkan ASI, karena yang ditekan pada massage payudara adalah 'pabrik' ASI bukan 'gudang'nya. Kan, kita tak bisa langsung mengeluarkan ASI dari 'pabrik' tapi harus melalui 'gudang' dulu." Jadi, bila tekniknya sudah benar, lama-kelamaan memerah ASI akan menjadi pekerjaan biasa. Waktu yang dibutuhkan pun tak sampai setengah jam, tapi susu yang terkumpul bisa mencapi 500 cc, lo. Setelah diperah, ASI harus di simpan dengan baik agar dapat bertahan lama. Menurut Utami, di udara terbuka, ASI perah bisa tahan 6-8 jam, tapi bila ditaruh di kantong plastik lalu dimasukan termos dan diberi es batu, akan tahan kira-kira 1X 24 jam. Lain lagi bila ASI perah dimasukan di lemari es, bisa tahan 2X24 jam. Sedangkan bila dimasukkan dalam freezer, bisa tahan 3 bulan. Namun dari semua cara penyimpanan tadi, lebih dianjurkan untuk memasukkan ASI ke dalam termos dan lemari es. "Sudah dibuktikan, lo, ASI perah yang dimasukkan ke termos dan lemari es tak mengalami perubahan komposisi gizi sama sekali. Hanya mungkin warna dan bentuknya saja yang berubah." Tak demikian halnya jika dimasukkan dalam freezer, "ASI akan mengalami perubahan dalam hal jumlah imunoglobulin, yaitu protein molekul yang berfungsi sebagai daya tahan tubuh, karena ada yang mati akibat kedinginan."

SUAPI PAKAI SENDOK
Selanjutnya, ketika ingin memberikan ASI perah pada si kecil, kita harus menghangatkannya dulu. Namun jangan dipanaskan di atas api, lo, karena mengakibatkan beberapa enzim penyerapan mati kepanasan. Beberapa buku dari luar menganjurkan untuk menyiram ASI dengan running tap water, tapi di Indonesia, kan, jarang ada keran yang berisi air hangat. Jadi cukup dengan mangkuk yang diisi air hangat (suhu airnya sama dengan suhu air yang biasa kita gunakan untuk mandi atau suhu tubuh). Adapun lama penghangatan tergantung suhu ASI, tapi prinsipnya buatlah suhu ASI seperti suhu tubuh karena akan menyerupai ASI yang dikeluarkan langsung. Nah, setelah selesai bisa langsung diberikan pada bayi. Namun cara pemberiannya jangan pakai botol susu dan dot, melainkan disuapi pakai sendok. Kalau si kecil langsung menyusu dari botol, lama-lama ia jadi "bingung puting". Jadi, ia hanya menyusu di ujung puting seperti ketika menyusu dot. Padahal, cara menyusu yang benar adalah seluruh areola ibu masuk ke mulut bayi. Jadi, kalau si kecil sudah "bingung puting", tak heran bila ia gagal mengeluarkan ASI di "gudang"nya. Salah satu tanda posisi si kecil salah menyusu ialah payudara ibu lecet. Akhirnya, si kecil jadi ogah menyusu langsung dari payudara lantaran ia merasa betapa sulitnya mengeluarkan ASI. Sementara kalau menyusu dari botol, hanya dengan menekan sedikit saja dotnya, susu langsung keluar. Tak usah cemas si kecil akan kekurangan ASI berapapun jumlah ASI perah yang dikeluarkan. Memang, pada awalnya si kecil akan gelisah dengan jumlah yang mungkin lebih sedikit dari biasanya, tapi bayi akan cepat beradaptasi, kok. "Maksimal pada hari keempat, bayi akan sudah terbiasa. Seberapa pun ASI yang ada, akan diminum. Kalau ditinggali 500 cc, akan diminum; begitu juga 300 cc, bahkan 200c. Namun ketika ibunya datang, ia akan minum habis-habisan. Jadi, bayi tak akan kekurangan ASI. Itu sudah dibuktikan, lo," tutur Utami. Nah, Bu, tak ada lagi yang perlu dicemaskan, bukan? Ingat, lo, meski bunda bekerja, si kecil tetap bisa mendapatkan ASI ekslusif!
Sumber: Faras Handayani . Foto : Iman (nakita)